Kamis, 03 September 2009

Berita Bohong, Rekayasa dan Hati Nurani dalam Kode Etik Jurnalistik

Jurnalisme merupakan sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang untuk berikap teliti, berimbang, objektif, dan akurat. Sebab hasil dari setiap pekerjaan jurnalisme selalu harus bisa dipertanggunjawabkan kepada publik secara menyeluruh. Seperti disebutkan pada sembilan elemen jurnalisme pada elemen yang pertama, bahwa kewajiban jurnalisme pada kebenaran, dalam jurnalisme sendiri lebih dimaksudkan kebenaran fungsional. Bukanlah kebenaran yang sering dicari oleh orang filsafat. Kebenaran fungsional adalah kebenaran yang senantiasa terus untuk dicari. Jurnalisme melaporkan materi “kebenaran” apa yang dapat dipercaya dan dimanfaatkan masyarakat saat ini. Berbekal kebenaran tersebut, masyarakat belajar dan berpikir mengenai segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Dengan demikian, jurnalisme menyampaikan kebenaran tentang fakta-fakta yang ditemukan saat itu. Fakta-fakta itu tentunya dilaporkan secara akurat dan jujur.

Menarik apabila kita mengaitkan elemen pertama ini dengan film berdasarkan kisah nyata seorang Steven Glass. Bila kita mencermati dalam film Shattered Glass (2003), misalnya, kita bisa melihat begitu gilanya seorang Stephen Glass. Wartawan paling muda pada majalah The New Republic berusia 25 tahun ini tidak tanggung-tanggung membuat 27 tulisan yang umumnya laporan utama di majalah The New Republic dengan rekayasa alias bohong. Glass juga dikenal sebagai kontributor untuk Rolling Stone dan The New York Times Magazine. Dan mungkin sebagai penonton bisa menerka-nerka bahwa kontribusinya di dua majalah lain itu akan sama seperti yang terjadi pada kasus rekayasa pada majalah The New Republic. Kasus pembodohan publik semacam ini sudah seringkali terjadi pada dunia jurnlaisme baik dalam lingkup kecil maupun berskala internasional. Film ini mengisahkan bahwa imajinasi pikiran seseorang dengan membuat berita yang sensasional lebih bisa diharapkan daripada menjual berita yang benar-benar terjadi dan berguna bagi publik secara benar, maka yang terjadi adalah masyarakat dibodohi secara telak sebab sumber dari berita yang dibuat tidak akurat dan hanya dibuat-buat. Maka bila hal ini terjadi, akan ada gerakan masyarakat yang tidak sesuai dengan jalur, akibatnya yang paling ditakutkan adalah stabilitas dalam masyarakat terganggu. Tentunya ini tidak bisa menjadi pembenaran. Dunia pers adalah ladang pengujian kredibilitas, akuntabilitas dan dunia citra. Bila citra, kepercayaan dan akutabilitas hancur bersiap-siaplah media itu menggali kuburannya sendiri dan dilupakan pembaca atau audience untuk selamanya.

Film Shattered Glass mengajarkan tentang pentingnya sebuah penjelajahan fakta secara mendetail dan tidak terburu-buru dengan menitik beratkan loyalitas pada masyarakat. Tetapi kadangkala yang terjadi pada tubuh pewarta berita adalah berita menjadi hanya sebuah komoditas untuk mendongkrak nilai jual produk medianya. Maka sangat menarik apabila kita mulai melihat sebenarnya apa yang terjadi dalam tubuh pewarta berita dalam melakukan pengulasan tentang berita yang akan dimunculkan. Sangat standar yang bisa kita lihat dalam film Shattered Glass bahwa proses pemberitaan dimulai ketika para wartawan mulai mencari berita dengan menulis pada catatan pribadinya yang kemudian dirangkai menjadi sebuah berita lengkap, dan kemudian diserahkan kepada editor untuk dicek secara menyeluruh. Tetapi apabila kita melihat kesalahan seorang Steven Glass kita bisa mulai berpendapat bahwa kesalahan terbesar berada pangkalnya yaitu sumber. Dimana, seorang Steven hanya merekonstruksi berita seturut imajinasinya saja, tentu saja hal yang diberitakan akan menjadi sangat populer, tidak mainstream dan menimbulkan reaksi yang spektakuler. Tetapi tingkat akurasi dan kebenaran dapat dikatakan nol besar. Dan bisa kita duga, berita ini akhirnya menjadi bumerang bukan hanya bagi Steven Glass sebagai wartawan, namun juga bagi The New Republic sebagai majalah yang telah memilki kredibilitas sejak tahun 1914 sebagai majalah yang membahas politik secara lugas.

Menghubungkan dengan Kode Etik Jurnalistik, bahwa setidaknya wartawan sebagai perpanjangan tangan dari masyarakat untuk mengetahui tentang apa yang terjadi disekitar, hendaknya tahu berbagai dasar yang harusnya dipegang dalam melakukan pekerjaannya. Pegangan itu dapat diperoleh dengan memaknai kode etik jurnalistik sebagai pedoman perilaku dan tata krama bagi pembuatan karya jurnalistik, bukanlah norma yang dapat dirumuskan dengan batasan yang serba hitam diatas putih. Sama halnya dengan rumusan bagi kebebasan pers dan demikian pula untuk kebebasan berekspresi, tidak dapat diberi batasan secara matematis yang serba pasti dan kaku. Maka, Kode Etik Jurnalistik akan sangat dimaknai sebagai dasar pola perilaku yang ditanamkan dalam pribadi masing-masing wartawan dalam proses pemberitaan yang hasilnya akan diberikan kepada masyarakat. Berkaitan dengan pemberitaan bohong dan rekayasa, dalam Kode Etik Jurnalistik Indonesia kita diarahkan melalui Kode Etik Jurnalistik Pasal 4 yang dengan tegas menyatakan: “Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.” Dalam pasal ini berita bohong ditafsirkan sebagai sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Jadi, yang perlu dimaknai dalam rangka memahami Kode Etik Jurnalistik adalah wartawan harus menggunakan tdak saja otak, pikiran dan kemampuan menulis tetapi juga tanggung jawab hati nurani bukan saja bagi diri sendiri namun juga bagi masyarakat secara luas.

Mencoba merangkum dari buku KOMPAS: Dari Belakang ke Depan, Menulis dari Dalam (2007), bahwa pelanggaran kode etik jurnalistik yang seringkali terjadi bersumber pada: Pertama, soal sumber daya manusia. Berita adalah out put dari pikiran dan sikap reporter. Pewarta yang membuat berita bohong integritas kewartawanannya patut diragukan. Kasus ini terjadi, bisa jadi saat perekrutan reporter pada media tertentu ada tahapan yang salah. Kedua, rutinitas dan kejenuhan. Secara psikologis rutinitas dan pekerjaan yang terpola akan diikuti kejenuhan. Seseorang yang jenuh akan menulis atau bekerja “kejar setoran”. Artinya tidak ada usaha dari si reporter untuk memverifikasi serta kemungkinan mengabaikan upaya cek dan ricek lebih tinggi. Bila kemalasan memuncak: membuat berita bohong. Ketiga, rendahnya gaji atau pendapatan reporter. Kasus ini memang masalah klasik tetapi cukup menyumbang banyak bagi kinerja reporter. Banyak kasus terjadi, tulisan berkualitas jelek pada umumnya terjadi pada media yang menggaji reporternya sangat rendah. Tentu saja untuk meyakinkan asumsi dan pengamatan secara acak ini perlu pembenaran dan penelitian lebih lanjut.

Masalah pelanggaran kode etik yang didasari berbagai hal diatas tentunya tidak akan terjadi apabila wartawan dan reporter sadar bahwa jurnalisme adalah suatu panggilan hidup dan bukan sekedar menguntungkan namun juga sekaligus mencerahkan. Untung bisa dicari melalui tingkat kredibilitas yang tinggi, dan bukan sekedar memberikan berita yang bombastis imajinatif serta menuju sasaran selera pasar saja, karena apabila kita memberikan berita yang mempunyai tingkat kredibilitas yang tinggi tentu saja masyarakat makin percaya terhadap media yang kita garap, dan setelah percaya bisa kita duga bahwa penjualan media itu makin tinggi.

Akhirnya, kode etik bukanlah sesuatu yang dimaknai sebagai sesuatu yang sulit dilakukan namun harus dijadikan sesuatu yang mendarah daging di setiap tubuh jurnalis. Kode etik jurnalistik bukanlah sesuatu yang membatasi kita dalam berekspresi dan mengungkapkan gagasan kita, namun lebih pada sesuatu yang mengarahkan kita dalam mengungkapkan gagasan secara tepat, akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. []

Sumber Bacaan:
Sularto, St. KOMPAS: Dari Belakang ke Depan, Menulis dari Dalam. 2007. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Santana, Septiawan. Jurnalisme Kontemporer. 2005. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Masduki. Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Yogyakarta: UII Press.
Majalah MADINA, edisi tanggal 10-16 Maret 2008. ISSN 1978-3361

Minggu, 03 Mei 2009

akhir-akhir ini banyak berita yang meributkan dengan adanya penjiplakan karya oleh grup band dmasiv, cukup banyak anggapan miring dari berbagai pihak hingga sampai-sampai pemilik label dmasiv angkat bicara seputar topik ini. mereka berkilah telah kecolongan dengan adanya rumor semacam ini. bagi grup band ini tentunya anggapan semacam ini merupakan goresan hitam yang mungkin tak akan mudah hilang dalam kancah band mereka. band yang pernah tenar karena menjadi juara dalam kontes band A mild: most wanted ini tentunya memilki harapan yang besar pada bandnya kelak, tetapi apa daya bahwa berita miring ini dapat kurang lebih menjadi tamparan yang cukup telak bagi band ini, secara otomatis popularitas yang berusaha diraih runtuh. bahkan baru-baru ini di facebook banyak komentar yang mengutarakan miring terhadap anggapan ini. dmassivers sebutan bagi fans demasiv menambahkan title bagi dirinya sebagai eks-massivers.

terlepas dari berbagai anggapan tersebut saya cukup bingung dengan apa yang sebenarya diingikan masyarakat kita, dengan meributkan hal sepele semacam ini. memang hal ini merupakan penting bagi kita dimana ada persoalan hak cipta yang dibawa kedalam masalah ini. namun layaknya seorang yang mempunyai daya pikir tentunya kita harus mampu memilih mana yang seharusnya penting untuk kita perdebatkan, contohnya saja masalah yang berhubungan dengan pendidikan bahwa masih banyak orang-orang yang masih belum dapat merasakan pendidikan, lebih baik kita menyimpan tenaga kita fokus terhadap masalah yang menyangkut lebih banyak pihak semacam ini, bukan hanya memikirkan hal-hal yang berusaha menjatuhkan sedikit pihak saja.

tentunya bagi peninjau seni hal plagiat semacam ini merupakan hal yang penting, tetapi akan disayangkan pada akhirnya hal ini akan berhenti pada pemahaman saja lalu hilang layaknya gosip yang berseliweran di ranah infotainment. ironis memang, bahwa menjadi pusat publik adalah sesuatu yang dicari sekaligus sesuatu yang dapat "memakan" kita. coba kita bayangkan bagaimana apabila kita diserang pikiran kita dengan berbagai cercaan pastilah yang akan terbunuh adalah karakter. lebih baik kita bersama-sama memikirkan apa yang selanjutnya, dan bukan hanya memikirkan yang dulu dan sekarang ini. masih banyak yang harus kita pikirkan menyangkut masalah menahun bangsa kita seperti korupsi, pendidikdn tidak merata, dan masalah kemanusiaan yang belum tahu dibawa kemana arahnya. apalagi masalah itu seakan akan terbenamkan dengan ributnya masalah tentang pemilu dan perebutan kekuasaan tentang apa koalisi dengan siapa, yang saya rasa kurang penting untuk di bahas.(nunu)

Selasa, 25 November 2008

Indonesia Ideal ?

Berbicara tentang kata Indonesia tentunya akan tidak asing di telinga kita, bagaimana tidak, hal itu terjadi karena tentunya sejak lahir kita berada di suatu daratan atau biasanya nama kerenya sering kita sebut sebagai Tanah Air, pastinya sejelek apapun tanah kelahiran kita pastilah kita akan berbangga telah dilahirkan di sana. Aku sangat yakin bahwa sekarang walupun kita berdiri di tanah air ini, kita akan kurang berbangga pada Tanah air kita, sebab selalu yang di temui di Indonesia adalah sesuatu yang ruwet karena tidak adanya sesuatu yang pasti dari orang-orangnya termasuk saya, tapi boleh donk sebagai anak Indonesia kita mempunyai visi untuk mau dijadikan nyata. Dalam mewujudkan suatu kenyataan tentunya kita harus punya impian untuk memotivasi kita mewujudkanya . Jujur aku sangat bingung kalau hartus memimpikan sesuatu hal, karena sebagai manusia aku sangat takut kalau nantinya harapan itu tidak terwujud. Percuma kan kalau impian harus selalu dipaksain, jadi di sini aku nggak akan bermimpi tapi berharap sesuatu pada Indonesia, bila terlalu serius dengan kata Indonesia, jujur aja menjadi sangat merinding sebab aku mencoba menengok bahwa bangsa ini merdeka melalui cucuran darah dan air mata. Pokoknya merinding kalau denger kata Indonesia, jadi aku akan coba membuat suatu yang beda : Bukan Impian tapi Harapan yang akan terangkai dalam kata INDONESIA.

Maaf kepada Bapak Soekarno dan Bung Hatta karena telah mengutak-atik nama keramat negara kita, mohon inspirasinya supaya apa yang aku tulis benar-benar sesuai dengan harapan beliau berdua selaku pendiri bangsa ini. INDONESIA memuat makna :

I : Inspirasi, aku bermimpi supaya Indonesia bisa jadi inspirasi bagi negara lain dalam hal kerukunan, budaya, dan sopan santun. Caranya dengan cara melestarikan gaya hidup bangsa kita terdahulu yang menjunjung tinggi sopan santun dan moral. Pokoknya gaya hidup yang Indonesia banget.

N : Natural, aku memimpikan indahnya bila semua manusia Indonesia bisa hidup dengan kesan natural dengan nggak hanya menonjolkan tampilan tampang aja tapi lebih mengasah potensi dalam diri yang alamiah, supaya terpancarlah sesuatu yang disebut identitas bangsa, semacam bahasa kerennya di kontes kecantikan disebut inner beauty.

D : Demokrasi, singkat aja landasan demokrasi tidak terlupakan, ingat kata pak Abraham Lincoln : Dari rakyat, Oleh rakyat, dan Untuk rakyat….

O : Ora tau ngeluh ( meksa karena bingung tapi maksudnya baik kok) harus punya jiwa pejuang sejati seperti para pahlawan negara kita dahulu, nggak perlu perang fisik lagi tapi tetap memerangi ketidakadilan. Ingat jangan hanya kerja keras! Sebab kerja keras hanya berhenti di beras, tapi kalau berani kerja cerdas akan lebih menjanjikan cakrawala luas.

N : Nasionalis jadi nomor satu, bukan bangsa lain yang mampu mengubah bangsa ini tapi bangsa itu sendiri yang mampu merubahnya lewat cinta dan mengabdi benar-benar pada bangsa. Jangan jajah sendiri bangsa ini dengan bahaya laten KORUPSI.

E : Empati, sikap saling menghargai menjadi modal menjadi orang yang berbudiman, ikut merasakan apa yang orang lain rasakan dan bersama mensyukuri apa yang ada. Hidup jangan seperti jumpat-jumpit dimana yang gemuk harta dapat menindas yang lemah, tapi sangat baik dengan cara hidup timbangan yamg selalu mencoba menyetarakan satu sama lain walau berbeda.

S : Siaga ( Siap, Antar, Jaga) dengan inspirasi dari iklan KB ini aku mau bangsa Indonesia siap hadapi arus globalisai, Antarkan bangsa Indonesia ke gerbang Kemerdekaan yang seperti kita harapkan dalam pembukaan UUD 1945, Jaga nama baik bangsa dengan tidak membudayakan sikap acuh terhadap situasi bangsa.

I : Instrospeksi, menjadi bangsa yang tahu malu dengan mau melihat setiap pribadi kita masing-masing dan mulai menyesuaikan dengan kebutuhan dunia saat ini, agar tidak akan mengulai kesalahan terdahulu.

A : Akhirnya mau melakukan mimpi kita masing- masing agar menjadi nyata, sebab bangsa yang besar mau berkaca dari masa lalu, dan mulai berias untuk menyongsong impiannya, percuma bila banyak bermimpi tapi tidak beraksi.

Sultan HB X Siap Menuju RI-1

Setelah sekian lama sejak 7 April 2008, dimana Sultan HB X menyatakan tidak bersedia lagi menjadi Gubernur DIY, akhirnya jawaban itu tiba pada hari selasa wage, 28 Oktober 2008. Acara Pisowanan Agung dengan tajuk “Dari Jogja Untuk Indonesia”, tampak riuh dengan panggung hiburan yang diisi oleh: Katon Bagaskara, Trie Utami, Franky Sahilatua, dan Kyai Kanjeng. Sajian hiburanpun tak lepas dengan suasana politis pula, menatap hal ini jelas bahwa isu pluralisme menjadi semangat Sultan dalam acara ini.
Ditengah cuaca yang mendung, ribuan masyarakat Yogyakarta maupun masyarakat perwakilan dari seantero Indonesia tampak antusias menantikan Sultan untuk menyampaikan jawabannya. Pada pukul 15:30 WIB Sultan akhirnya memproklamirkan dirinya ke publik, bahwa Sultan siap maju menjadi Presiden 2009. Kalah dan menang bukan masalah, sebagai bagian dari demokrasi Indonesia, inilah yang menjadi semangat perubahan yang ingin dibawa oleh Sultan. Predikatnya sebagai Raja, itu tidak ada kaitannya dengan pencalonannya. “Yogyakarta sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia, saya bukanlah raja seperti seratus tahun yang lalu, kini sudah bagian negeri ini”, kata Sultan.

Pisowanan Agung yang dibalut dengan konsep budaya, amat kental terasa suasana politis. Partai Republikan yang sudah mendeklarisikan mencalonkan Sultan sebagai capres, membanjiri Alun-alun Utara Yogyakarta dengan atributnya. Acarapun berlangsung kondusif. Animo masyarakat Yogyakarta sendiri tidak begitu terasa dalam Pisowanan Agung kali ini, hal ini merupakan salah satu indikasi dampak terpecahnya dua kubu, Pro Penetapan dan Pro Pencalonan. Meski terbagi visi masyarakat Yogyakarta, namun suasana tepo sliro masih terasa. Inilah Yogyakarta dengan babak baru yang digoreskan oleh Sultan HB X di Bumi Mataram untuk Indonesia.

Dalam acara Pisowanan agung ini sebetulnya ada sesuatu yang ingin diangkat oleh Sultan HB X yaitu sebuah konsep budaya yang amat pluralis, yaitu dengan mengundang berbagai wujud kesenian yang ada di Indonesia, seperti kesenian jathilan, kesenian dari Sulawesi Utara, Pengarakan bendera merah putih dan berbagai tarian maupun jenis kesenian yang lainnya. Tetapi tema yang ingin disampaikan cenderung terkesan sulit untuk ditangkap oleh sebagian besar masyarakat yang datang karena dalam prakteknya keseluruhan kesenian itu hanya dikirab menghadap panggung tamu undangan saja dan tidak melakukan atraksi apapun, padahal untuk sebagian besar orang yang datang dalam acara ini mereka menginginkan sesuatu hiburan kesenian yang mereka tahu sebagai sebuah gelaran budaya.

Nampaknya gelaran budaya yang disajikan hanya terlihat sebagai ”alat” penarik animo masyarakat untuk menghadiri acara ini walaupun pada kenyataanya animo masyarakat Yogyakarta belum terasa , tetapi secara keseluruhan acara ini berhasil mencapai tema besar yang diangkatnya yaitu ” Dari Yogyakarta Untuk Indonesia” dan juga melalui acara ini sebuah praktek demokrasi telah dilaksanakan yaitu tempat dimana rakyat dan pemimpinnya dapat berkomunikasi, baik melalaui acara besar pisowanan agung maupun sub-acaranya yaitu konfrensi pers.

Hati-hati dengan Bahasa Indonesiamu

Sebagai orang yang tinggal di Indonesia tentunya tidak asing lagi dengan bahasa Indonesia. Sebab mulai dari sekolah kita dahulu pasti diajarkan tentang bahasa Indonesia apalagi sejarah bangsa kita lewat peristiwa besar Sumpah Pemuda juga mengatakan bahwa bahasa Indonesia juga merupakan bahasa persatuan di negara kita. Maka tak ayal kita sudah mulai berbicara dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia, padahal tahukah anda bahwa banyak kata-kata asing yang diserap oleh bahasa kita ini dan hal itu seringkali berpotensi untuk menimbulkan suatu kerancuan dalam arti, baik kita sendiri maupun orang asing yang empunya bahasa itu. Sehingga hal ini akan mendorong kita untuk berhati-hati menggunakan bahasa sendiri, dan hal ini juga menjadi sebuah masalah dalam berkomunikasi bagi kita sebagai orang yang paling sering menggunakan bahasa Indonesia. Baik masalah untuk berkomunikasi dalam bangsa sendiri maupun berkomunikasi dengan bangsa lain.

Sebagai negara yang pernah dijajah oleh bangsa asing seringkali hal itu berpengaruh pada pembawaan bahasa kita yang juga mulai berubah mengikuti bangsa asing tersebut, dan tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa asing yang ada itu terbawa dalam bahasa Indonesia sampai sekarang, atau lazim diketahui dalam bidang bahasa sebagai bahasa serapan. Terlebih bahasa serapan yang berasal dari Belanda yang dahulu kita ketahui bersama pernah menjajah Indonesia dalam waktu yang relatif lama. Meski Indonesia sudah terlepas dari penjajahan Belanda selama setengah abad, jumlah kata-kata Belanda yang tertinggal di sini ada 5000-an. Jumlah tersebut dapat kita temukan dalam buku tulisan Dr. Vandeputte berjudul Bahasa Belanda (Stichting Ons Erfdeel, Den Haag, 1987) halaman 57. Selain menguraikan seluk-beluk bahasa Belanda, buku tersebut juga menguraikan sejarah perkembangan dari abad ke abad serta peranannya dalam pergaulan antarbangsa di dunia.

Di suatu surat kabar yang pernah saya baca beberapa bulan yang lalu (KOMPAS) seorang wisatawan Belanda menuturkan bahwa selama berkunjung di Indonesia, ia selalu mendengar kata-kata yang berasal dari bahasanya sendiri yang ternyata sudah berubah artinya, seperti koran, rekening, kuitansi, porsekot, los, atret, pas, dan perlop. Juga di rumah sakit masih dipakai sebutan pasien, suster, operasi, sal, injeksi, bludrek. Ia terheran lagi sewaktu menonton televisi: orang Indonesia makin suka mengucapkan daah, papa, mama, om dan tante, sebaliknya Bibi dipakai untuk memanggil wanita pembantu rumah tangga. Yang ia sulit mengerti ini: mengapa panggilan untuk semua kucing di Indonesia selalu Poes, sedangkan anjing-anjing masih diberi nama Pleki (dari Vlekkie) meski tak ada belangnya sama sekali, atau Broni meskipun bulunya berwarna putih mulus. Dan tidak jarang ia mendengar pula kata khusus Belanda terdapat di segala bidang kehidupan di Indonesia misalnya palem (palm:tanaman), ritsleting (ritssluiting: pakaian), kopling (koppeling: teknik mesin), saklar (schakelaar: pelistrikan), buncis (boontjes: pangan), sokbeker (schokbreker: kendaraan bermotor), indehoi (in het hoon: bercumbu di dalam rumput kering), indekos (in de kost: mondok dan ikut makan).Padahal, ia ingat betul bahwa di Indonesia, Presiden Soekarno pernah menganjurkan agar nama Belanda dihapus saja, apalagi yang diberi bentuk tje, seperti maritje dan butje.

Seorang ahli bahasa yaitu Nathanael Daljoeni, 1993 menjelaskan bahwa dengan akibat lancarnya mobilitas sosial secara vertikal berkat majunya pendidikan dalam keluarga Jawa panggilan bapak dan simbok dinaikkan menjadi papa dan mama atau papi dan mami. Jika pada golongan keturunan Cina ada sebutan yang sama, itu karena cuma menghaluskan yang dulunya berupa panggilan papah dan mamah. Di kota-kota besar, dalam keluarga Jawa yang orang tuanya pulang studi dari luar negeri, sebutan baru diintroduksikan berupa daddy dan mommy.

Adapun panggilan om sebagai pengganti paman atau paklik ada penjelasannya sendiri. Di zaman Hindia Belanda, oom dalam keluarga Jawa hanya berlaku bagi paman yang berpendidikan bahasa Belanda; begitu pula tante pengganti bulik. Om dan tante tidak di berlakukan untuk pakde dan bude, seperti dalam bahasa Belanda. Bagi Belanda, oom dan tante juga berlaku bagi kakak dan adik dari nenek. Pernah di sekitar tahun 1970, orang segan dipanggil om atau tante. Bukan karena nasionalis tetapi akibat merajalelanya para oom senang dan tante girang di perkotaan.

Sekarang panggilan oom diobralkan di jalan raya. Bagi tukang becak mereka dulunya dipanggil bah, koh, dauke, juragan ndara, mas bei semuanya menjadi oom demi mudahnya. Celakanya, turis-turis asing di tahun 1970 masih menikmati panggilan tuan kini ikut digolongkan om. Panggilan tuan, meski sudah dihapus oleh Presiden Soekarno, sebenarnya masih digunakan untuk londo, artinya orang asing yang berkulit putih (sekarang istilahnya Bule). Bagi orang Jawa, segala yang putih kulitnya itu londo, sehingga ada londo Inggris, londo Jerman, londo Amerika. Para orang asing atau londo tersebut pasti akan terhina bila kita sebut dengan om, karena mereka lazim mendengar kata tuan untuk menghormati mereka, jika mereka dipanggil om pasti mereka berucap ” Apa? Saya bukan om! Kapan saya kawin sama kamu punya tante?”

Pada akhirnya terbukti pada akhirnya suatu alat komunikasi dalam hal ini bahasa juga dapat bermasalah. Maka ada baiknya kita sebagai manusia yang tak dapat lepas dari komunikasi mulai berhati-hati dan mulai lebih memahami bahasa masing-masing orang. Sebab seperti kita tahu di dalam bahasa terkandung begitu banyak arti makna. Mulai berhati-hatilah dalam berbicara dan menggunakan bahasa sebab tak akan bisa kita lepas dari bahasa yang menyatukan kit satu sama lain. Kendalikanlah bahasamu dan mengertilah lebih dalam, selalu ingatlah peribahasa Mulutmu Harimaumu.

Sumber:

------.2003. Dari Katabelence sampai Kakus. Jakarta: Penerrbit Buku Kompas.

Rubrik Opini Kompas, Selasa 13 Februari 1996, halaman 5

Kamis, 20 November 2008

Everyday Heroes(coba-coba belajar bahasa inggris)

In this topic I have to explain to you about everyday heroes. Heroes as we know is a person with power and mind who can make a beautiful situation for every one. In fact, heroes in the world is very much, and one by one heroes with special feature we proud with ceremony or party. But if you know the true heroes is stand by everyday beside all of the people. The true heroes is parents (mother and father).


Oftentimes, people say their parents are their heroes. this is because they have known these people since birth. Parents take care of their children, make their children, teach their children so many things. they love them and help them . They constantly set examples for their children, whether good or bad. when you grow up seeing how your parents act, you usually act that way. and since you believe that behavior is acceptible, when you see your parents doing it, you look up to them. it's kind of like a cycle. sadly as children grow up, they don't admire their parents as much because they develop different views and learn their parents aren't superheroes. sometimes that is a good thing though. but no matter if they are your heroes or you just admire them, or you just live with them, always remember to at least appreciate all they've done for you, even if sometimes you don't like it.

As heroes, parents have very much job, not only easy job but very much hard job. The hard ones is save their children, and give some knowledge from this world. Small example, Fathers teach children to ride bicycles and endure life's harder lessons. Father figures can have a powerful influence on people of any age. A father can also be someone who originates a movement, such as "the father of our country." The following men have made significant contributions to their field and sometimes to the world. Mother as one parts of parents have hard job too, she always taught to never give up. She has told to go for my dreams and to never give up. A biological job to mother is preagnancy or make new life for a baby. Because Throughout the ages, women have given birth to and nurtured the children of the world. Women have also founded ideas and movements. "Mother" can mean "give rise to" as much as "to be a parent." Many women are heroes who inspired or led a change in the world in some important way.

Parenting is a tough job. All too often we do not come to appreciate just how rough our parents had it until we become parents ourselves. While parenting has always been challenging, it seems that parenting today is even tougher than it was for the generations before ours. We believe that is is more difficult because we are raising our children in a far different world than our parents raised us. For the most part, our parents, grandparents, and great-grandparents had a pretty good parenting guide set out for them by watching the other members of their family and the world did not change the greatly from one generation to the next. In addition, previous generations of parents had a strong support system of not only examples but helping hands. Today, our mobile society and high rate of single parenthood (through divorce or from the beginning) have not only destroyed the support system of yesteryear but also created a lot more challenging childhood to parent. In our electronic age we do not lack for parenting advice and parenting tips, but it is so hard to pick and choose from the myriad of "helpful hints" to know just what will work for you and your child. However, just like so many other problems in life we are often our own worst enemies. Whenever the parenting choices get too tough then boil it down in importance by asking yourself one of these three key parenting

First, are you a good role model for your child? You know right from wrong. You know what it means to be an adult. You know what kind of man or woman you hope your child to be when he or she grows up. If you want your child to grow up a certain way then try to give them a role model to follow. Children do as you do, not as you say, my mother always says, and I know this is true from watching my own child as well as my students. If you want your child to be kind then you need to demonstrate kindness. If you want your child to be a good student then model scholarship and demonstrate that you value education. If you want your child to have strong work ethic that show them what it means. You can tell your children you want them to stay in school but if you are a dropout who never pursued a G.E.D. then what message does that send? Our children can learn from our mistakes but too often they simply repeat them unless we show them how to change their life.

Second, are you preparing your child for life and adulthood? Don't get me wrong. I think children should be allowed to be children. They should have fun and play. All too often today's child grows up far too soon. I am not talking about talking about sex with your 6-year-old or forcing your 12-year-old to get a job. I mean simply starting when your child is young to teach responsibility, decision-making, and consequences. Start them small with little jobs and little decisions and then as they grow older you can increase the level. If you do too much for your child then they will not be able to do for themselves when they grow older. Also, if you teach your child that life is all fun and games then they are going to be really upset when they discover it is not. I don't allow my 6-year-old to operate any kitchen equipment without supervision but he can make himself a peanut butter sandwich and pour a glass of milk. He can't unload the entire dishwasher (and I shudder to think about him putting glassware in a cupboard over his head) but he can put the silverwaren away.

Finally, are you providing a solid emotional, physical and educational foundation for your child? Remember, your child may well be in charge of your life some day or maybe even in charge of all of our lives (hey somebody's kid has to be President, why not mine or yours?). Many people with tremendously flawed beginnings grow up to be good people, but why handicap your child that way? No matter how many challenges you face personally it is your job as a parent to provide security and comfort for your child.

I believe that one of the keys to being a good parent is keeping your eyes on the prize. Focus on one universal rule or measuring stick and everything else will get much easier. What measuring stick should you use? That is up to you as this is your life and your child, but the measuring stick my husband and I use is a simple one. We think about what kind of man we want our son to be and apply that goal to the situation at hand. If you focus on being a good role model, preparing your child for life and adulthood, and providing a solid foundation then you are a good parent. Don't sweat the small stuff if the big stuff is taken care of.


We hope parenting system can make parents strong to be real heroes in the family. Don’t forget that family is important part in our life. Thank you.